Arsip

Referensi

Sindoro, i love you. Pelaksanaan pada tanggal 8 – 13 Maret 2011


Desa Kledung berada di lembah yang di apit oleh gunung Sumbing dan gunung Sindoro. Di desa ini terdapat gapura yang menjadi perbatasan antara kabupaten Temanggung dan Wonosobo. Untuk mendaki gunung Sumbing dari arah Parakan kita turun setelah gapura, sedangkan untuk mendaki gunung Sindoro kita turun sebelum gapura ini. Gunung Sindoro memiliki ketinggian 3.153 mdpl (meter dari permukaan laut) gunung ini sering menjadi tujuan utama para Pecinta Alam, terutama untuk melakukan ekspedisi Triple S (Slamet, Sumbing, Sindoro). Medan yang terjal, panasnya sengatan matahari serta tidak adanya sumber air menjadi tantangan utama dalam pendakian. Seringkali pendaki tidak bisa melanjutkan pendakian karena kehabisan air minum.


Tempat pendaftaran di Kledung yang juga menjadi markas Tim SAR ini menyediakan tempat untuk menginap, kamar mandi, menjual kaos, stiker, gantungan kunci, makanan dan minuman. Pendaki dapat memesan makanan bungkus sebagai bekal di perjalanan, karena memasak dan berkemah di gunung akan memerlukan persediaan air yang banyak. Pendakian ke gunung Sindoro sebaiknya dilakukan pada malam hari karena untuk menghindarai panas dan debu, serta untuk menghemat air minum.


Perjalanan diawali dari basecamp melewati perkampungan penduduk. Selanjutnya menapaki jalan berbatu sejauh sekitar 2 km melintasi kebun penduduk yang didominasi oleh tanaman jagung. Track awal landai kemudian sedikit menanjak ketika memasuki kawasan hutan pinus menjelang Pos 1 Sibajing, dengan ketinggian 1.900 mdpl. Dari Pos 1 ini kita berbelok ke kanan , jangan mengambil jalan lurus karena buntu. Kita harus mendaki dan menuruni 2 buah punggungan gunung. Jalur bergeser ke punggungan yang lain melintasi tiga buah jembatan kayu. Pohon lamtoro dan pinus yang cukup lebat di sepanjang jalur cukup membuat suasana menjadi sejuk.


Pos II berada pada ketinggian 2.120 mdpl.


Menuju Pos III medan mulai terjal dan berbatu, terdapat sebuah batu yang sangat besar di tengah jalan setapak. Pendaki dapat beristirahat di atas batu sambil menikmati pemandangan alam. Jalan tanah berdebu bercampur kerikil seringkali menyulitkan pendakian. Medan mulai terbuka kembali sehingga di siang hari akan terasa panas. Gunung sumbing sudah mulai kelihatan, sangat tinggi dan besar sehingga bisa menjadi hiburan selama pendakian yang melelahkan. Pos III Seroto berada pada ketinggian 2.530 mdpl, lokasinya terbuka dan cukup luas untuk mendirikan belasan tenda. Dari sini kita akan menyaksikan pemandangan yang sangat indah ke arah gunung Sumbing. Pemandangan lereng terjal gunung Sindoro serta puncak bayangan yang nampak di depan mata sangat indah untuk dinikmati. Dari Pos III pendakian dilanjutkan dengan melintasi jalan berbatu yang terjal disertai dengan kerikil dan debu. Meskipun medan sangat berat kawasan ini agak rindang karena banyak ditumbuhi oleh pohon lamtoro dan tanaman perdu. Jalur kembali terbuka melintasi medan yang banyak terdapat batu – batu besar. Setelah mencapai puncak bayangan pertama, pendaki harus menghadapi puncak bayangan berikutnya yang kelihatan sangat tinggi dan curam. Menuju puncak bayangan ke dua yang terjal dengan medan yang berbatu sungguh sangat melelahkan, terutama bila dilakukan pendakian pada siang hari akan terasa sangat panas dan kita akan sering kehausan. Beruntung medan yang kita lewati ditumbuhi oleh pohon lamtoro dalam jarak yang agak dekat sehingga bisa digunakan untuk berteduh. Lintasan berikutnya melewati medan berbatu dengan tanaman edelweis. Sesampainya di puncak bayangan kedua setelah melewati hutan edelweis, medan kembali terbuka dan harus melintasi batu – batu besar. Puncak gunung yang sesunguhnya masih belum nampak karena tertutup pandangan oleh pohon – pohon edelweis.


Jalur akhir menuju puncak ini medannya sangat berat, selain terjal dan terbuka, panas matahari sangat terasa menyengat, kelelahan dan kehausan menyertai para pendaki. Batu – batu besar menjadi pijakan di sepanjang lintasan. Di siang hari pasir dan batu terasa sangat panas bila disentuh, terutama batu yang berwarna hitam bila dipegang terasa sangat panas sekali. Tidak mengherankan jika di gunung Sindoro ini sering terjadi kebakaran. Menjelang puncak pohon edelweis banyak tumbuh sehingga bisa menjadi tempat berlindung dari teriknya matahari.


Puncak gunung Sindoro tidak terlalu luas tetapi melingkar mengelilingi kawah. Banyak terdapat batu – batu besar dan ditumbuhi tanaman edelweis. Dari puncak gunung Sindoro pemandangan ke arah selatan terlihat gunung Sumbing sangat indah sekali. Sedikit ke arah timur nampak gunung Merbabu dan gunung Merapi yang diselimuti awan.


Kawah gunung Sindoro cukup luas, pendaki dapat turun ke dasar kawah. Di musim penghujan kawah ini akan terisi oleh air membentuk danau kawah, sehingga pendaki dapat mandi serta mengambil air bersih dari danau kawah. Di musim kemarau kawah gunung Sindoro masih menyisakan genangan – genangan air yang bercampur dengan belerang sehingga terasa asam bila diminum.

Mendaki Gunung Semeru #2

Transportasi dari Jakarta menuju TNBTS
Dari pasar genjing ke stasiun pasar senen menggunakan angkot M35 Rp 3.000, lalu dari stasiun pasar senen menggunakan kereta api ekonomi MATARMAJA menuju stasiun kota baru malang, harga tiket kereta api ekonomi MATARMAJA Rp 51.000,- Sesampainya di stasiun kota baru malang disarankan untuk menyewa angkot untuk langsung menuju pasar tumpang dengan tarif Rp 10.000/orang, atau dari stasiun kota baru malang naik angkot jurusan terminal arjosari seharga Rp 4.000 dilanjut ke pasar tumpang Rp 4.000,- Dari Pasar tumpang menggunakan mobil jeep untuk menuju resort ranupani harga sewa mobil jeep Rp 450.000,- Kapasitas mobil jeep mampu mengangkut sebanyak 13 – 15 orang, maka Rp 450.000 : 13 orang = Rp 34.615/orang (genap Rp 35.000/orang untuk sewa jeep). Setelah itu melakukan registrasi dengan membayar retribusi sebesar Rp 7.000 (umum) di Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang berada di Jl. Raya Tulus Ayu Telp. 0341-787972 Tulusbesar Tumpang Malang.

Transportasi dari TNBTS ke Jakarta
Dari resort ranupani menuju pasar tumpang bisa menggunakan mobil jeep seharga Rp 450.000 (dibagi banyaknya jumlah rombongan maka dapat ditentukan harga perindividu) atau menggunakan truk sayur seharga Rp 30.000/orang (disarankan pada pagi hari sekitar pukul 08:00 sudah bersiap – siap di resort ranupani). Atau jika anda ingin meneruskan pendakian ke gunung bromo anda bisa naik truk sayur dengan membayar Rp 15.000/orang lalu turun di pertigaan jemplang. Dari pasar tumpang disarankan untuk menyewa angkot untuk langsung menuju stasiun kota baru malang, sekitar Rp 10.000/orang. Dari stasiun kota baru malang menuju stasiun jatinegara menggunakan kereta api MATARMAJA Rp 51.000/orang. Dari stasiun jatinegara menggunakan APB turun di Jl. Kayumanis 1 Baru, tarir APB Rp 3.000,- Estimasi biaya transportasi sebesar Rp 250.000/orang.

Point yang harus diingat
1. Persiapkan mental dan fisik, rencana perjalanan, keuangan serta perlengkapan baik individu maupun kelompok.
2. Naik kereta ekonomi (MATARMAJA) sebaiknya naik dari stasiun pasar senen, atau naik dari stasiun kota dan memesan tiket kereta 3 – 4 sebelum pemberangkatan. Sebaiknya tiba di stasiun pasar senen sebelum pukul 14:00 wib. Karena Kereta api ekonomi matarmaja berangkat dari stasiun pasar senen pukul 14:00 wib.
3. Tiba di stasiun kota baru malang, kurang lebih perjalanan di kereta hampir 20 jam.
4. Setibanya di stasiun kota baru malang dilanjut menuju pasar tumpang dengan menyewa mobil yang berada di depan stasiun. Anda akan diantar ke pos yang berada di pasar tumpang.
5. Jangan lupa membawa surat kesehatan dari dokter, kartu identitas diri seperti KTP, KTM, SIM dll. Serta masing – masing di fotocopy sebanyak 2 lembar dan bawa juga 1 lembar materai 6000 (satu TEAM). Jika anda tidak membawa surat kesehatan dari dokter atau belum memfotocopy kartu identitas diri jangan khawatir karena di pasar tumpang tersedia.
6. Dilanjut ke Ranu Pane dengan menggunakan mobil jeep yang sudah tersedia, sebelum sampai di ranupani anda akan di ajak ke Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk mengisi/ meregistrasi identitas diri.
7. Kembali meneruskan perjalanan dengan menggunakan mobil jeep, dan memasuki kawasan taman nasional bromo tengger semeru.
8. Tiba di ranupani, mengkonfirmasi pendakian di resort ranupani.
9. Meneruskan perjalanan ke ranu kumbolo, perlu di ingat untuk mencapai ranu kumbolo dari jalan beraspal ranupani anda ke kanan menuju pintu masuk hutan dan ke kiri mengikuti jalan setapak yang ditandai dengan 3 buah patok berwarna kuning.
10. Tiba di ranu kumbolo. (Silahkan beristirahat mendirikan tenda) Perkiraan waktu yang dibutuhkan dari ranupani ke ranu kumbolo mencapai 4 jam.
11. Tanjakan Cinta.
12. Oro – Oro Ombo.
13. Kalimati (Silahkan mendirikan tenda). Perkiraan waktu yang dibutuhkan dari ranu kumbolo ke kalimati mencapai 6 jam. Masih ada sumber air di sumber mani.
14. Arcopodo (Dapat mendirikan tenda pula)
15. Cemoro Tunggal nya sudah roboh.
16. Puncak MAHAMERU. Jika ingin menggapai puncak disarankan start dari kalimati pukul 02:00 malam, dan jangan berlama – lama diatas puncak MAHAMERU karena para pendaki diwajibkan untuk turun dari puncak sebelum pukul 10:00 dikarenakan adanya gas beracun dari kawah jonggring saloka.

Untuk melihat hasil foto silahkan klik disini.

Gunung ini berada di timur laut kota Solo, dan dibawah administratif Karanganyar dan Magetan. Ketinggian gunung ini 3265 mdpl dan puncaknya dikenal dengan nama Hargo Dumilah. Gunung ini bisa didaki dari dua titik pendakian yaitu: Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Gunung Lawu juga berada diantara dua propinsi, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Didaerah puncak terdapat juga sebuah alun – alun yang merupakan bekas kawah yang sudah mati cukup lebar dan merupakan lokasi yang bagus untuk mendirikan tenda. Didaerah sebelum puncak gunung ini juga terdapat sumber mata air yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Gunung Lawu merupakan salah satu gunung yang populer di Jawa, Bukan hanya karena ketinggiannya diatas 3000 mdpl. akan tetapi didaerah puncak gunung ini juga kita temukan tempat petilasan Bung Karno. yang selalu dikunjungi oleh para penziarah. Jadi jangan heran kalau selama pendakian anda akan banyak bertemu dengan pendaki yang gaya dan pembawaannya berbeda dengan pada umumnya para pendaki gunung. Gunung ini mempunyai kawah di bagian pinggang gunung, bukan di puncak. Kawah ini bisa dilihat dari jalan setapak rute Cemoro Kandang, Gunung Lawu merupakan gunung yang bermedan terbuka dan minim pohon. terutama sekali setelah Pos V medan terbuka hanya ditumbuhi oleh rerumputan dan semak. Gunung Lawu ini jika dilihat dari kota Solo tampak seperti kepala raksasa yang sedang tidur terlentang.

Transportasi
Untuk akses transportasi, dari Solo naik bus jurusan Tawang Mangu dengan ongkos Rp.5.000,- per orang, kemudian dilanjutkan dari Tawang Mangu menuju Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu dengan memakai kendaraan L300 atau ELF sperti mobil box yang diberi pintu dibelakangnya. Kendaraan ini bertarif Rp.5.000,- per orang.

Jalur Pendakian
Rute Pendakian Dari Cemoro Sewu
CEMORO SEWU
Cemoro Sewu ini terletak setelah Cemoro Kandang dan berada di wilayah Jawa Timur. Dengan ketinggian 1818 m dpl dan berada pada posisi 07° 39′ 52″ LS dan 111° 11′ 29″ BT. Disini terdapat sebuah gerbang dan loket lapor, didaerah ini ada banyak warung. Selain itu juga terdapat sebuah camping ground. Jalur setapak hingga pos satu sangat bagus dan berbatu serta bisa ditempuh oleh kendaraan 4×4.

POS I (WESEN-WESEN)
Berjarak sekitar kurang lebih 2.9 km dari gerbang Cemoro Sewu, Pos I ini terletak pada ketinggian 2.203 m dpl serta pada posisi 07° 39′ 03″ LS dan 111° 11′ 41″ BT. Jalan setapak masih bagus dan tanjakan belum begitu curam. Di pos ini tidak terdapat sumber air.

POS II (WATU GEDEG)
Setelah melewati Pos I jalan setapak masih berupa batu-batu, dan setelah berjalan dengan jarak lebih kurang 5.2 km, akan sampai di Pos II yang disebut juga dengan Pos Watu Gedeg. Pos ini terletak pada ketinggian2.589m dpl, berada pada posisi 07° 38′ 26″ LS dan 111° 11′ 42″ BT. Di pos ini juga tidak terdapat sumber air. Ketinggian 2.589 m dpl.

POS III (WATU GEDE)
Jarak dari Pos II ke Pos III ini adalah jarak yang paling jauh lebih kurang sekitar 6.2 km. Pos ini berada pada mendan yang sedikit miring akan tetapi ada bebrapa tempat datar yang bisa untuk mendirikan tenda. Berada pada posisi 07° 38′ 13″ LS dan 111° 11′ 41″ BT. Di Pos Watu Gede ini tidak ada sumber air. Ketinggian 2.787 m dpl

POS IV (WATU KAPUR)
Seperti halnya pos-pos terdahulu disini tidak tersedia mata air, tapi kita bisa menikmati pendangan lepas kearah Tawang Mangu. Pos ini berada pada posisi 07° 38′ 00″ LS dan 111° 11′ 44″ BT dan berjarak lebih kurang sekitar 3.6 km dari pos sebelumnya yaitu Pos III. Ketinggian pos ini 3.099 m dpl

POS V (JOLO TUNDO)
Pos ini merupakan pos yang terakhir dan berada pada sebuah areal terbuka yang bisa ditempati beberapa tenda. karena jarak pos ini hanya sekitar 50 m dari sumur Jolo Tundo, sehingga pos ini dimanakan juga Pos Jolo Tundo. Air bisa kita dapatkan dari sumur Jolo Tundo. Berada pada posisi 07° 37′ 57″ LS dan 111° 11′ 46″ BT dan dengan ketinggian 3.177 m dpl, dan berjarak lebih kurang 2 km dari Pos IV. Dari Pos V ini kita bisa menyasikan sunrise dan juga tidak jauh dari pos ini terdapat sebuah gua yang dalamnya sekitar 15 m, yang dikenal dengan nama Sigolong-golong

SENDANG DERAJAT
Sumur Sendang Drajat ini terletak lebih kurang berjarak sekitar 4.1 km dari Pos V, letaknya persisi dijalur menuju puncak dan Hargo Dalem. Dilokasi sumur ini terdapat beberapa pondok dan juga kamar mandi, di sendang ini kita harus mengisi persediaan air jika kita berencana untuk mendirikan tenda di Hargo Dalem atau disekitar puncak. Berada pada ketinggian 3.171 m dpl, dan pada posisi 07° 37′ 43″ LS dan 111° 11′ 52″ BT. Sendang ini dikeramatkan oleh orang jawa dan dipercaya airnya membawa berkah jika mandi dengannya. Selepas dari tempat ini kta dihadapkan pada jalan setapak yang mendatar hanya sedikit tanjakannya. Tak lama kita akan bertemu dengan Pertigaan Puncak dan Hargo Dalem jika jika lurus menuju puncak dan jika berbelok kekanan maka akan sampai ke komplek Hargo Dalem

HARGO DALEM
Komplek Hargo Dalem ini berjarak sekitar 4.5 km dari Sendang Derajat, dengan ketinggian 3.167 m dpl dan pada posisi 07° 37′ 32″ LS dan 111° 11′ 47″ BT. Dalem komplek ini terdapat sebuah tempat ritual dan juga terdapat pondok-pondok yang terbuat dari seng, dan digunakan sebagai tempat menginap oleh para penziarah. Selain itu didalam komplek ini terdapat sebuah tempat menarik hasil kreasi dari seorang penduduk yang berupa sebuah pondok yang mirip benteng yang terbuat dari limbah botol plastik, botol beling dan juga kaleng-kaleng hasil dari sampah para pengunjung gunung ini. Dan yang lebih terpuji lagi disini terdapat sebuah WC yang bisa dipakai umum. Tempat ini dinamakan oleh pembuatnya dengan nama Kyai Botol.

PUNCAK LAWU (HARGO DUMILAH)
Puncak Lawu 3.245 m dpl dan berada pada posisi 07° 37′ 38″ LS dan 111° 11′ 39″ BT. Dari puncak kita bisa menikmati pemandangan disekeliling gunung Lawu dan di saat satu suro puncak ini dipenuhi oleh para penziarah yang melakukan ritual pada tiang trianggulasinya yang dikeramatkan bagi yang mempercayainya. Ada banyak tempat untuk mendirikan tenda di kawasan puncak.

Jalur Pendakian
Rute Pendakian Dari Cemoro Kandang
Berikut adalah urutan dari jalur pendakian lewat Cemoro Kandang Jawa Tengah. Pada jalur pendakian ini cenderung lebih panjang karena alur jalan setapaknya melingkar-lingkar digigiran punggungan dan terkadang berada diatas jurang yang curam. pada jalur ini persediaan air cukup banyak.

CEMORO KANDANG
Cemoro Kandang berada di wilayah Jawa Tengah, pada ketinggian 1.946 m dpl dan pada posisi 07° 39′ 49″ LS dan 111° 11′ 14 ” BT. Disini terdapat sebuah pos pendaftaran sebelum melakukan pendakian, prasarana untuk pendaki disini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Cemoro Sewu.

POS I (TAMAN SARI BAWAH)
Pos ini berada pada ketinggian 2.237 m dpl dan pada posisi 07° 39′ 00″ LS dan 111° 11′ 19″ BT. Pos ini berjarak lebih kurang sekitar 9.9 km dari Cemoro Kandang. Pos ini berupa sebuah bangunan batu dan beratap seng, didepan pos ini terdapat sebuah lembah yang didasarnya mengalir sebuah sungai. Disamping pondok ada areal untuk mendirikan tenda.

POS II (TAMAN SARI ATAS)
Pos II ini juga berupa sebuah pondok dari Batu beratap seng. Sumber air bisa didapat jika turun sungai yang ada didasar lembah yang berada tepat didepan pos ini. Yang menarik dari pos ini kita bisa melihat kawah gunung ini yang dikenal juga dengan nama Kawah Candra Dimuka. Di pos ini terdapat areal yang luas untuk mendirikan tenda. Ketinggiannya 2.499 m dpl, posisinya 07° 38′ 33″ LS dan 111° 11′ 16″ BT, berjarak sekitar 8.4 km dari pos sebelumnya.

POS III (PENGGIK)
Pos III ini terletak persis di pertengahan dari jalur pendakian Cemoro Kandang ini, dengan posisi 07° 38′ 07″ LS dan 111° 11′ 03″ BT, ketinggian 2.894 m dpl dan berjarak sekitar 28.7 km dari pos sebelumnya. Jalurnya melingkar – lingkar dipunggungan dan ditengah jalan menuju antara Pos II dan Pos IV kita akan menemukan mata air pada posisi 07° 38′ 20″ LS dan 111° 11′ 00″ BT pada ketinggian 2.586 m dpl, tepat persis dipinggir jalan setapak.

POS IV (COKRO SURYO)
Disebut Cokro Suryo karena dilokasi pos ini terdapat batu berukir peninggalan zaman Majapahit. Ukiran batu tersebut berupa lingkarang yang bercahaya yang merupakan perlambang dari cakra yang bersinar. Lambang ini adalah merupakan lambang dari kerajaan Majapahit. Pos IV ini sangat luas, akan tetapi pada pos ini tidak terdapat sumber mata air. Sebelum pos ini kita akan menjumpai sebuah mata air yang bernama Sendang Panghuripan. Berada pada posisi 07° 37′ 54″ LS dan 111° 11′ 11″ BT

POS V (PERAPATAN)
Pos V ini adalah satu-satunya pos Cemoro Kandang yang tidak mempunyai bangunan pondok. Pos ini merupakan sebuah tanah datar dan di pos ini juga merupakan sebuah perapatan. Jika kekanan Ke Hargo Dumilah, kekiri ke Hargo Dumiling, sedangkan lurus ke Hargo Dalem. Pos ini sudah dekat jaraknya dari Hargo Dalem dan tidak ada sumber mata air juga, akan tetapi pemandangan yang lepas membuat nenda di pos ini menjadi menyenangkan.

Perijinan
Perijinan tidaklah berbelit – belit, pada kedua gerbang masuk yaitu Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu terdapat sebuah pos loket petugas. Disini kita mendaftarkan jumlah anggota kita serta menyebutkan rencana pendakian kita. Biaya masuk untuk satu orang adalah Rp.3.000,- Sudah termasuk kupon asuransi, seperti halnya gunung manapun anda diminta untuk tidak membuang sampah sembarangan. Bawalah setiap sampah yang anda hasilkan. Setiap pendaki harus mempunyai perlengkapan dan peralatan standar untuk pendakiaan gunung. Ada baiknya sebelum anda mendaki tanyakan ke petugas pos tentang sumber mata air di gunung ini terutama sekali saat musim kering.

Sumber : http://www.olecamp.co.cc/2003/08/gunung-lawu.html

Dengan dibukanya kembali pendakian ke Gunung Gede Pangrango mulai 1 September 2009, pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) sebagai pengelola kawasan telah merilis Juknis Pendakian terbaru yang wajib diikuti oleh para pendaki khususnya dan semua wisatawan secara umum yang melaksanakana kegiatan wisata di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Adapun aturan baru tersebut diantaranya memuat hal-hal sebagai berikut :

1. Pendakian wajib pendampingan TNGGP.

2. Wajib tes tertulis sebagai kunci perijinan pendakian.

3. Pemeriksaaan barang bawaan saat pergi dan pemeriksaan sampah bawaan saat pulang.

4. Wajib menerima blanko temuan satwa saat pergi dan menyerahkan blanko temuan satwa saat pulang.

Mudah-mudahan dengan adanya aturan baru tersebut dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada para wisatawan/pendaki dan juga kelestarian kawasan TNGGP dapat selalu terjaga.

Sumber http://gedepangrango.org/aturan-baru-bagi-para-pendaki-gede-pangrango/

Kode Etik Pecinta Alam Se-Indonesia
“ PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA “

“PECINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KAMI KEPADA TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR ”

” PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA “

Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Memelihara alam beserta isinya serta menggnakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.

3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.

4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.

5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam

6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.

7. Selesai.

Disyahkan bersama dalam GLADIAN IV – 1974 Di Ujungpandang Pukul 01.00 WITA